• Home
  • About
  • Project
    • Let Me Tell You
    • Coretan
    • Review
  • Project Coretan
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

LET ME TELL YOU

MAMPIR KE PASAR CIHAPIT

Kali ini, aku mau yapping tentang sesuatu yang ada di Bandung, nih. SESUATU yang ada di Bandung atau SESEORANG yang ada di Bandung nih maksudnya? — ups


Ngomong-ngomong soal Bandung, aku punya sejuta cerita dan kenangan tentang kota ini. Selain itu, kota ini tuh penuh warna dan juga rasa. Kadang rasanya manis kayak kamu, eh manis kayak bolu Amanda, deh. Ada rasa gurih juga kayak kuah batagor, ada rasa pedes juga kayak seblak level lima. Heuheu..

Btw, aku pernah tinggal di kota ini sekitar tiga tahun untuk menyelesaikan studiku. Tentunya, kota ini punya tempat istimewa di hatiku.

“Kenapa Bandung?” (dengan nada ala-ala trend tektok). Karena Bandung begitu syahdu untuk meratapi kesedihanku, Bandung bikin candu karena di sana ada kamuuu — eaaa.

Dan Bandung, bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu — melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.

Kumaha barudak? Well.

Bandung teh romantis pisan euy! Udaranya yang sejuk dan syahdu, ngagalau di Bandung mah paling enakeun pokokna mah, makanannya banyak yang enak-enak, banyak tempat wisata juga, orang-orangnya agak slow living, ditambah lagi aa-aanya kasep pisan euy! Aa Bandung mah bisa bikin yang love language-nya word of affirmation klepek-klepek, karena Aa Bandung mah soft spoken kalo bicara teh! huehehehe..


Sebenernya yapping kali ini, sudah pasti mencle-mencle sih pembahasannya!



Ceritanya sudah pasti puanjang x lebar x tinggi, kalo ditanya kenapa sekarang aku ada di Bandung. It’s a long story… Tapi, episode kali ini bukan untuk membahas itu, ya. Karena kali ini, aku mau yapping tentang: MAMPIR KE PASAR CIHAPIT!

Seperti biasa, aku jarang re-search terlebih dahulu tempat yang mau aku datengin. Sebab, anaknya SPONTAN — uhuuuy!!

Biasanya, aku akan mendatangi salah satu makanan yang aku mau atau yang bikin aku penasaran, tanpa pikir panjang biasanya aku langsung “gasss otw.” Syarat utamanya sih satu, deket kosan, murah di-ongkos dan ramai orang (aman). Kebetulan pas scroll tektok aku nemu salah satu makanan yang bikin aku penasaran, konon katanya warung nasi ini begitu legend sebab pernah didatangi oleh presiden Ir. Soekarno, Pak Jokowi dan para pesohor lainnya.




PASAR CIHAPIT

Pertama kali melihat pasar ini, aku sangat excited, sih. Karena pasar ini memiliki hidden gem yang menarik untuk di-explore. Pasar ini unik tapi keren, dikarenakan beberapa bagian dari pasar ini telah bertransformasi menjadi tempat yang kekinian. Perpaduan nuansa jadul dan sentuhan modern-nya itu bikin balance dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Pada saat memasuki pasar Cihapit, pengunjung akan melewati jalan setapak (tapi nggak terlalu setapak) atau anggap aja pengunjung bisa berjalan menyusuri lorong utama pasar yang sisi-sisinya dipenuhi para pedagang. Mulai dari yang jual sayur, buah-buahan sampai cemilan jadul yang bikin nostalgia.

Setelah sampai di dalam pasar, aku disambut oleh pedagang ayam, daging segar, sayuran dan banyak lagi. Kemudian, aku terus berjalan menyusuri para pedagang, dan ternyata di bagian dalam pasar — terdapat banyak gerai penjual kekinian dari berbagai negara. Mulai dari makanan Jepang, Korea, Cina, Vietnam dan tentunya Indonesia.

Aku mengamati setiap gerai yang ada di sana. Hampir semuanya dipenuhi pengunjung yang sedang antre makanan. Aku nggak tahu, kenapa pasar Cihapit bisa seramai ini, apakah karena ini hari libur? atau mungkin karena pasar ini memang pasar favorit orang-orang? (Nah, aku nggak tahu kenapa, soalnya aku nggak sempet survei eheuheu).

LOKASI WARUNG NASI MA EHA

Warung nasi Legend yang akan aku kunjungi kali ini adalah Warung Nasi Ma Eha. Lokasinya di Ps. Cihapit, Jl. Cihapit No 8A, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114.

Warung Nasi Ma Eha ini berada di dalam pasar Cihapit, tepatnya tersembunyi di ujung bagian dalam pasar tradisional. Warung nasi ini sangat legendaris sebab presiden Ir. Soekarno dan Pak Jokowi pernah makan di sini. Berdiri sejak tahun 1947, warung nasi ini tetap eksis dan jadi favorit banyak orang sampai sekarang.

MENU WARUNG NASI MA EHA

                            

Menu yang disajikan cukup beragam. Warung ini menyajikan menu rumahan yang memiliki cita rasa yang digandrungi banyak orang. Di warung nasi Ma Eha, kita akan menemukan berbagai lauk, mulai dari tahu, tempe, perkedel, gepuk, babat, bala-bala, daging ayam, aneka pepes, daging sapi, buntil, ikan nila dll. Salah satu hal yang menyenangkan bagiku yaitu; setiap pembeli akan mendapatkan teh tawar hangat, sambal dadak dan lalapan secara cuma-cuma alis gratis.

                            

Meski di pasar Cihapit telah banyak kuliner kekinian yang bermunculan, namun warung nasi Ma Eha ini selalu ramai seolah tak tergerus zaman. Warung nasi ini memiliki tempat tersendiri di hati para pengunjung.


APA YANG AKU MAKAN DI WARUNG NASI MA EHA?

Antrean kali ini lumayan panjang, tapi aku tetap sabar karena sangat tergiur dengan perkedelnya. Aku bahkan mempersilakan beberapa orang untuk menyalip antreanku, karena perkedelnya masih digoreng. Selain perkedel, deretan lauk yang tersaji, sungguh menggoda iman. Rasanya pengen nyobain semuanya, tapi aku harus menahan diri biar nggak kalap.

Setelah penantian panjang, akhirnya pencarianku berlabuh pada beberapa lauk, yakni; nasi, pepes tahu, perkedel, telor balado dan bala-bala. Aku juga sempat meminta bumbu gepuk, sebab katanya gepuk ini adalah menu yang banyak diincar di sini. Daging gepuk ini dibalut dengan bumbu serundeng yang manis dan gurih, membuat aroma dan tampilannya semakin menggoda. Dan benar saja, bumbu gepuk yang aku cicipi rasanya manis dan memiliki cita rasa yang khas.

Tak perlu waktu lama, akhirnya lalapan, sambal dadak dan teh anget disajikan. Aku pun sudah tak sabar untuk menyantap dengan lahap semua lauk yang sudah ku pesan.

                                

Pertama, aku langsung mencoba perkedel kentang yang menjadi incaranku. Benar saja, rasanya sangat memanjakan lidahku, gurih asin dan tekstur yang lembut — lidahku sampai bergoyang kegirangan. Perkedel ini ukurannya cukup jumbo jika dibandingkan dengan perkedel pada umumnya. Perkedel ini memiliki tekstur renyah di luar namun lembut di dalam.

Kemudian, aku aduk nasi hangat dengan bumbu gepuk. Dan surprisingly, rasanya khas dan manis. Bumbu gepuk ini terbuat dari kelapa yang dimasak dengan berbagai rempah dan bumbu ini memiliki warna kecoklatan.

                                

Next, giliran pepes tahu yang aku santap dengan tenang. Funfactnya, aku jarang memesan pepes tahu, tapi entah kenapa kali ini rasanya pepes tahu tersebut bikin nyaman dan klik di lidahku. Pepes tahu ini dibalut dengan daun pisang, sehingga pepes ini memiliki aroma yang alami. Tekstur tahu yang lembut dan perpaduan rasa gurih pepes ini memberikan kenyamanan bagiku. Pepes ini menjadi salah satu comfort food bagiku.

Aku juga mencicipi telor balado dan juga bala-bala (bakwan). Rasanya enak dan tekstur yang padat membuatku semakin kenyang.

Tak lupa, aku ambil lalapan dengan sambal dadak, pokoknya rasanya pas kombo sederhana.

Kali ini, aku sangat menikmati sajian lauk yang dihidangkan. Ditambah lagi dari pagi aku belum sempat sarapan, jadi semuanya terasa lebih nikmat dan memuaskan. Oh ya, warung ini buka dari jam 06.00–15.00 WIB. Tapi, kalo mau menikmati lauk yang masih komplit, aku saranin buat datang sekitar jam 09.00–10.00 pagi, karena di jam segitu lauknya masih lengkap dan beberapa menu masih fresh dari kompor.

Buat kalian pembaca yang budiman, yang penasaran dengan cita rasa dari Warung Nasi Ma Eha, yuk boleh mampir ke sini ya!


Mungkin segini dulu yapping kali ini, guys!

Mohon maaf kalo fotonya kurang proper, karena dulu ngga kepikiran buat nulis ala-ala blog gini. hehe..

Untuk yapping: MAMPIR KE PASAR CIHAPIT nanti akan dilanjut di PART 2 ya kalo aku ga mager. Hehe.. Thank you guys!!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Project: Coretan

Halo, selamat datang di tempat random dan asbun! whehehe.. 

Pweaseee (plis) jangan berharap apa-apa yaa selama di sini! huft :’)))

    
  

Actually, aku cuma menulis hal-hal yang pengen aku tulis aja, 

entah itu tulisan gaje, gaje, dan GAJE :’)​

            

So, kalau kamu butuh tempat buat nyari hal-hal aneh 

atau cuma pengen ngabisin waktu, 

mungkin ini bisa jadi tempat yang pas! Hihii…

                    

Selamat menikmati! 

Yang baiknya silakan diambil; 

yang jeleknya, jangan diambil.


                        


Meskipun orangnya gaje, 

tapi doain ya, semoga di masa depan 

author gaje ini bisa menebar kebermanfaatan.

                                
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Photo by 
 Chuko Cribb   On Unsplash

Kita adalah sepasang yang sama-sama kesepian. Barangkali lebih tepatnya, sepasang dengan penuh kesunyian.

Kita mungkin kehilangan malam yang penuh hingar bingar sebab asyik merenung dipojok kamar. Nyatanya terangnya malam dan ramainya kota, kini mulai redup cahayanya. Itulah mengapa, aku dan dia tak kemana-mana. Lagipula semua orang dihimbau untuk tinggal di rumah aja, sebab dunia kini sedang tak baik-baik saja. 

Tentang kesepian yang telah kita lewati dengan puluhan senja tanpa romansa, terpasung dingin diujung hening di kamar masing-masing. Mencoba menerjemahkan sunyi, ternyata kita hanyalah sepasang kesepian yang enggan berhenti bernyanyi untuk sembunyikan sepi. Atau mungkin, sepasang kesepian yang sengaja mengeraskan suara tawa tuk sembunyikan luka. Ah mungkin juga, sepasang kesepian yang menyimpan rapat kenangan dipojok jendela kamar.

Aku tahu, kita hanya sepasang yang kesepian—tanpa saling memberi perhatian. Sejak menyadari itu, kini aku mulai belajar untuk memelihara kesepianku dengan baik. Sebab tak ada yang bisa diharapkan dari dua orang, lebih tepatnya sepasang kesepian ini. Mereka sama-sama kesepian, saling bersembunyi dan saling menyembunyikan perasaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

                             


Akhir-akhir ini beberapa teman datang menghubungiku untuk menumpahkan kekesalan dan kegalauan atas drama-drama dibabak baru kehidupan — usia dua puluhan. Bukannya aku gak sibuk, hanya saja saat ini aku memiliki waktu luang yang sedikit lebih banyak dari mereka.

Aku selalu senang saat mereka datang bertukar cerita atau bahkan hanya sekadar bertukar kabar. Aku selalu siap pasang telinga mendengar setiap kisah yang mereka bagikan. Hingga akhirnya aku mendapat pelajaran bahwa kadang dibalik kehidupan mereka "yang kita anggap senang" sebenarnya banyak hal yang mereka keluhkan. Hanya saja mereka enggan membagikan, semampunya mereka tutupi di belakang layar.

Topik yang kita keluhkan diusia sekarang ternyata cukup melelahkan. Masalah kerjaan dan anak turunannya yang bikin geleng-geleng kepala. Dengerin drama-drama di tempat kerja yang membuka mata tentang realita. Mulai melatih mental supaya kebal terhadap beberapa omongan tetangga — Barangkali begitulah gambaran garis besar yang sering kami perbincangkan diwaktu luang (dijauh-jauh hari sebelum deadline datang). 

Beberapa dari mereka bilang, "perasaan aku terus yang curhat, nanti giliran kamu yang curhat deh. Eh kamu mah gak ada masalah kali yaa.."

Mereka berasumsi, aku yang selow dan terlihat kalem ini tampaknya tak memiliki permasalahan. Lebih tepatnya sejauh ini — "terlihat baik-baik saja."

Terlihat baik-baik saja. Bukan berarti aku tak memiliki masalah dalam hidup. Terkadang dalam beberapa keadaan, akupun ingin menumpahkan kegelisahan yang aku rasakan. Namun lagi dan lagi, banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku harus memilah dulu mana topik yang pantas aku bagikan atau mana yang sebaiknya aku simpan. Selain itu, aku pribadi lebih nyaman curhat secara tatap muka sebab topik yang dibahas akan mengalir secara deras dan juga tentunya terasa melegakan.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, dibaliknya aku insomnia. Menulis disetiap jam-jam yang penuh overthinking. Mengumpulkan begitu banyak amunisi yaitu cokelat.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, mungkin kelihatannya aku sedang berpura-pura. Lagipula hidup adalah panggung sandiwara, yang terlihat bahagia mungkin saja didalamnya ia sedang membalut luka.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Photo by DeMorris Byrd on Unsplash

“Let me tell you this: if you meet a loner, no matter what they tell you, it’s not because they enjoy solitude. It’s because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them.” ― Jodi Picoult, My Sister’s Keeper

Bersahabat dengan hening, terasing, membenci bising, ternyata telah menjadi bagian dari hidupku selama ini. Orang mungkin tak nyaman dengan sikapku, bahkan diriku sendiri kadang memaki dan menyalahi diri. Apa sulitnya untuk berbaur dan melebur dengan lingkungan di sekitarmu? Bergerak mengikuti angin kemudian menempatkan diri seperti air. Cobalah bersahabat dengan bising lalu nikmati setiap guyonan so asyik supaya suasana semakin berisik. Sesekali setelah menelisisk, aku coba untuk memberanikan diri, tetapi hatiku malah terusik. Benar saja aku memang tak asyik.

Setiap hari aku sering merenung memikirkan mengapa aku tidak seperti kebanyakan orang yang lainnya. Bersikap hangat dan menebarkan senyuman kepada semua orang, atau bahkan saat berselisih paham dapat dengan mudahnya kembali rujuk dan baikan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Bukan orang terdekat mungkin melihatku begitu kaku, bahkan sesekali mungkin menganggapku angkuh karena terlalu sering diam karena tak memberikan perhatian penuh. Aku selalu mempertimbangkan, saat aku memberi pengertian agar kita semakin akrab, aku tak bisa jamin bahwa dia akan mengerti dan menerima kita juga. 

Aku hanya tak ingin kembali dikecewakan, dengan memberi jarak bagi mereka yang hanya sekadar mencari persinggahan, pelampiasan atau bahkan mencari kesenangan sesaat. Aku tak mau jika akhirnya berujung karena bosan dan aku tak mau menyia-nyiakan waktu. Pemikiranku mungkin keliru jika alasan ini terbentuk karena kekecewaan. Aku tahu ini bukan pilihan yang bijak. Ku akui, saat ini aku belum bisa bertumbuh menjadi manusia yang saat dikecewakan berlapang hati dan dengan ikhlas mengurai senyuman. Namun aku akan berusaha semoga seiring berjalannya waktu, aku menemukan jawaban dan bisa berdamai dengan diri sendiri tanpa harus terusik karena memikirkan urusan orang lain yang seringkali membuat hati menjadi sempit.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Photo by Megan te Boekhorst on Unsplash


“That’s the advantage of insomnia. People who go to early always complain that the night is too short, but for those of us who stay up all night, it can feel as long as a lifetime. You get a lot done” ― Banana Yoshimoto, N.P 


Beberapa bulan terakhir ini, aku menjelma menjadi “Nocturnal Human Being” atau istilah lainnya “Night Owl” dengan sangat parah. Nocturnal Human Being merupakan sebutan bagi orang yang cenderung terjaga hingga larut malam dan aktif pada malam hari.

Kebanyakan orang akan beraktivitas produktif pada pagi hari dan tidur lebih cepat pada malam hari. Bagi orang-orang seperti ini termasuk pada tipe Early Bird. Ada beberapa penyebab mengapa pola tidurku menjadi berubah dan kemudian menjadi Nocturnal Human Being.

Hal ini terjadi sejak aku mengenyam bangku kuliah. Sebagai mahasiswa tentu waktu itu dituntut untuk menyelesaikan tugas pada waktunya. Karena tugas yang dibebankan cukup banyak, akhirnya tugas menjadi menumpuk dan itulah yang menyebabkan aku harus begadang.

Kemudian saat menjelang semester 4–5 di kampus kami diselenggarakan Brevet Pajak, tentu saja perkuliahan sering berakhir di jam 21.00 malam, belum lagi rapat organisasi karena ada beberapa acara waktu itu. Tentu mau tidak mau kami harus menyelesaikan tugas di kosan pada larut malam.

Kalau di tanya waktu itu capek atau nggak, ya aku capek. Oleh sebab itu, jika ada sebuah konser musik, maka sesekali — aku dan temanku lebih memilih membolos. Bukan bandel — tetapi hanya saja kami butuh refreshing. Tentu kami tidak serta merta bolos begitu saja. Temanku itu adalah orang yang bisa dibilang lumayan dekat dengan dosen, kemudian kami bisa meminta izin ke dosen dengan beberapa alibi.

Kemudian menjelang tingkat akhir, kamipun magang. Sebelumnya aku pengen magang di Bandung, tapi melihat sektor industri yang ada akhirnya aku memutuskan untuk merantau lebih jauh lagi yaitu ke Jakarta. Di Jakarta pola tidurku tak berubah, malah lebih parah. Jika pagi sampe matahari tenggelam saatnya bekerja, nah malam harinya adalah waktu utuk menyusun Tugas Akhir. Kemudian sabtu-minggunya adalah waktu untuk kita bimbingan ke Bandung, karena kami LDR-an sama dosen pembimbing. Udah deh kalo inget masa itu capek banget. Bukan hanya capek mikirin TA tapi juga mikirin ongkos bulak-balik Jakarta Bandung.

Setelah selesai sidang dan menyusun Tugas Akhir, aku masih tetap merasa kesulitan untuk tidur lebih cepat. Selain karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, aku juga memiliki gangguan tidur. Dimana saat aku tertidur, aku tiba-tiba bangun kemudian tanpa sadar merasakan kecemasan. Telapak tangan penuh keringat dingin, dan bahkan sesak bernafas. Oleh sebab itu aku tak pernah memaksakan untuk tidur sebelum benar-benar mengantuk.

Kalau ditanya kapan masa Nocturnal Human Being mu yang terparah. Aku jawab, yaitu semenjak saat WFH (Work From Home) yang terjadi di bulan Ramadhan ini, bahkan aku hampir tak bisa tidur sampai waktunya sahur. Aku baru bisa tidur setelah sahur hingga menjelang waktu dzuhur. Dalam kondisi ini aku benar-benar lupa caranya untuk tidur cepat.

Menjadi Nocturnal Human Being, diriku sering dianggap pemalas karena sering bangun siang. Apalagi kebiasaan ini dimiliki oleh seorang gadis sepertiku, tentu orang tuaku sering khawatir dibuatnya. Tapi sisi positifnya, dengan menikmati malam yang begitu panjang, aku bisa mendapatkan beberapa pemikiran bahkan inspirasi yang aku gak bisa dapatkan di siang hari. Sebenarnya aku juga rindu untuk tidur lebih cepat seperti masa-masa SD sampai SMA. Dimana pemikiran tentang hidup dan masa depan tidak begitu dianggap beban, sehingga aku bisa tertidur dengan tenang. Sungguh aku rindu masa itu. Hal ini mengingatkanku pada lagu Hindia “Secukupnya”.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang, di esok hari

Tidur tenang, tak banyak pikiran dan tak mengkhawatirkan masa depan mungkin adalah sesuatu yang sulit dilakukan bagiku sekarang. Apalagi di usia saat ini, dimana aku ingin hidup mandiri dan tak mau lagi bergantung pada orang tua. Tentu mengkhawatirkan masa depan menjadi sesuatu yang selalu terbayang-bayang. Hal ini ternyata telah memberi pengaruh terhadap kualitas tidurku selama ini.

“I’m an insomniac, my mind works the night shift.” ― Pete Wentz, Gray
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Photo by Prajwal Poojari on Unsplash

(Less intelligence can be improved by learning. Poor skills can be eliminated with experience. But dishonesty is just hard to fix).

Setelah lulus kuliah dan baru memasuki dunia kerja, pemikiran seperti “kok dunia kerja beda ternyata dengan kehidupan kampus yaa..” Di fase ini juga, diri ini sering memikirkan banyak hal, overthinking dan beberapa realita sering mematahkan ekspektasi — yang bikin patah hati. 

Sungguh aku tersiksa dengan kondisi ini. Merasa kehilangan percaya diri. Seakan aku yang dulu sudah tiada lagi, bahkan lebih parahnya lagi aku asing dengan diriku sendiri. Realitas yang bikin nggak nyaman bahkan sering memaki diri. Sedangkan kehidupan yang kamu jalankan bukan lagi sesuai passion dan keinginan.

Suatu hari bapak nanya. “bagaimana dengan mimpi masa depanmu? Yuk, kita rangkai lagi.”

Aku selalu bilang, entahlah pa. Entah kenapa satu tahun belakangan ini aku tak berani bermimpi. Namun benak selalu di penuhi maki karena khawatir dengan hari esok. Bayangan menggelisahkan selalu mengisi ruang kosong setiap malam tiba. Bagaimana caranya agar bisa menghidupi seorang diri ini, tanpa bergantung dengan uluran tangan orang tua. Tak mau berekspektasi lebih — Kondisi ini seakan-akan aku menggadaikan mimpi. Ngapain sih bermimpi? Bikin nambah-nambah kecewa aja. Kondisi tersebut seolah seseorang yang sedang trauma hingga enggan menaruh hati.

Emang bapa di usia seperti itu masih punya mimpi? Tanyaku pada bapak.

Bapak bilang, “ya jelaslah. Bapak punya banyak mimpi, apalagi buat anak-anak bapak. Mimpi bapak ingin melihat anak-anak bapak bahagia, dan hidup berkecukupan.”

Bermimpi di atas realita yang menyebalkan itu memang sulit. Anak muda yang lemah ini terlalu pesimis menjalani hidup hanya karena dipatahkan hatinya. Entah hal apa yang dapat mengubah hatinya.

Suatu hari aku kembali terhubung dengan guru yang sangat banyak mensupport bahkan dia yang sering mengingatkan bahwa dalam hidup ada rezeki “Min Haitsu La Yahtasib (dari arah yang tidak disangka-sangka)” Jika dipikir-pikir dalam perjalanan hidupku ini sangat banyak hal baik yang tak pernah aku sangka, bahkan dipikirkan sama sekali juga tidak pernah. Beliau menyadarkanku, bahwa kadang apa yang kita rencanakan tidak harus selalu menjadi kenyataan. Lebih seringnya, yang Alloh tetapkan jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Tentunya akan banyak hikmah di dalamnya.

Kemudian beliau mengirimkan sebuah story social media yang isinya bahwa “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur sulit diperbaiki”– Mohammad Hatta. Saat membaca quotes tersebut, yang aku pikirkan adalah, Ya benar aku bukanlah seseorang yang sepenuhnya gagal — hanya saja kesuksesan itu membutuhkan pengalaman bahkan jam terbang yang panjang, yang aku perlukan adalah jangan menyerah, tak apa usaha sedikit- demi sedikit yang penting jangan menyerah. Tak apa jika kamu hanya mampu bertahan — asal jangan mundur dan lari kebelakang. Aku berusaha menguatkan diri dengan cara menghargai setiap usahaku meski hanya berjalan pelan. Aku tak ingin menyalahkan diriku atas kemampuanku yang berbeda dengan orang lain. Aku yang terlihat lemah ini, tak ingin begitu mudah runtuh.

Mungkin benar, saat ini aku belum sepenuhnya percaya diri. Pengalaman yang masih awam membuatku hanya bisa diam, kemudian menyimpan duka kesedihan tersebut. Serangkaian perjalanan anak muda yang sedang patah hati dalam menjalani hidup, memang membutuhkan pundak yang kokoh untuk menahan beban. Meskipun saat ini aku masih berada di fase bertahan dan merasa kesulitan untuk move on dari berbagai kekhawatiran, tapi aku yakin suatu saat waktu akan membantu menyembuhkan. Kemudian perihal mimpi yang terhalang luka — jika ditanya apakabar mimpi yang sempat hilang? Aku pastikan sedikit demi sedikit, aku akan merangkainya kembali.

“Even though it feels like we are doomed forever, we are not. This is not the end, there is always a light at the end of the tunnel. So cheer up!”

(Light at the end of the tunnel)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me

About Me

Hi, and welcome to my blog. I'm Mahya. I’m 22 now. I'm a Chocolate lover and a random thinker.

Read More

Recent Post

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Facebook

Blog Archive

  • Juli 2026 (2)
  • September 2020 (2)
  • Juli 2020 (5)

Created with by ThemeXpose