Yapping: Mampir ke Pasar Cihapit
MAMPIR KE PASAR CIHAPIT Kali ini, aku mau yapping tentang sesuatu yang ada di Bandung, nih. SESUATU yang ada di Bandung atau SESEORANG yang ada di Bandung nih maksudnya? — ups Ngomong-ngomong soal Bandung, aku punya sejuta cerita dan kenangan tentang kota ini. Selain itu, kota ini tuh penuh warna dan juga rasa. Kadang rasanya manis kayak kamu, eh manis kayak bolu Amanda, deh. Ada rasa gurih juga kayak kuah batagor, ada rasa pedes juga kayak seblak level lima. Heuheu.. Btw, aku pernah tinggal di kota ini sekitar tiga tahun untuk menyelesaikan studiku. Tentunya, kota ini punya tempat istimewa di hatiku. “Kenapa Bandung?” (dengan nada ala-ala trend tektok). Karena Bandung begitu syahdu untuk meratapi kesedihanku, Bandung bikin candu karena di sana ada kamuuu — eaaa. Kumaha barudak? Well. Bandung teh romantis pisan euy! Udaranya yang sejuk dan syahdu, ngagalau di Bandung mah paling enakeun pokokna mah, makanannya banyak yang enak-enak, banyak tempat wisata juga, orang-orangnya agak slow living, ditambah lagi aa-aanya kasep pisan euy! Aa Bandung mah bisa bikin yang love language-nya word of affirmation klepek-klepek, karena Aa Bandung mah soft spoken kalo bicara teh! huehehehe.. Sebenernya yapping kali ini, sudah pasti mencle-mencle sih pembahasannya! Ceritanya sudah pasti puanjang x lebar x tinggi, kalo ditanya kenapa sekarang aku ada di Bandung. It’s a long story… Tapi, episode kali ini bukan untuk membahas itu, ya. Karena kali ini, aku mau yapping tentang: MAMPIR KE PASAR CIHAPIT! Seperti biasa, aku jarang re-search terlebih dahulu tempat yang mau aku datengin. Sebab, anaknya SPONTAN — uhuuuy!! Biasanya, aku akan mendatangi salah satu makanan yang aku mau atau yang bikin aku penasaran, tanpa pikir panjang biasanya aku langsung “gasss otw.” Syarat utamanya sih satu, deket kosan, murah di-ongkos dan ramai orang (aman). Kebetulan pas scroll tektok aku nemu salah satu makanan yang bikin aku penasaran, konon katanya warung nasi ini begitu legend sebab pernah didatangi oleh presiden Ir. Soekarno, Pak Jokowi dan para pesohor lainnya. Pertama kali melihat pasar ini, aku sangat excited, sih. Karena pasar ini memiliki hidden gem yang menarik untuk di-explore. Pasar ini unik tapi keren, dikarenakan beberapa bagian dari pasar ini telah bertransformasi menjadi tempat yang kekinian. Perpaduan nuansa jadul dan sentuhan modern-nya itu bikin balance dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Pada saat memasuki pasar Cihapit, pengunjung akan melewati jalan setapak (tapi nggak terlalu setapak) atau anggap aja pengunjung bisa berjalan menyusuri lorong utama pasar yang sisi-sisinya dipenuhi para pedagang. Mulai dari yang jual sayur, buah-buahan sampai cemilan jadul yang bikin nostalgia. Setelah sampai di dalam pasar, aku disambut oleh pedagang ayam, daging segar, sayuran dan banyak lagi. Kemudian, aku terus berjalan menyusuri para pedagang, dan ternyata di bagian dalam pasar — terdapat banyak gerai penjual kekinian dari berbagai negara. Mulai dari makanan Jepang, Korea, Cina, Vietnam dan tentunya Indonesia. Aku mengamati setiap gerai yang ada di sana. Hampir semuanya dipenuhi pengunjung yang sedang antre makanan. Aku nggak tahu, kenapa pasar Cihapit bisa seramai ini, apakah karena ini hari libur? atau mungkin karena pasar ini memang pasar favorit orang-orang? (Nah, aku nggak tahu kenapa, soalnya aku nggak sempet survei eheuheu). Warung nasi Legend yang akan aku kunjungi kali ini adalah Warung Nasi Ma Eha. Lokasinya di Ps. Cihapit, Jl. Cihapit No 8A, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114. Menu yang disajikan cukup beragam. Warung ini menyajikan menu rumahan yang memiliki cita rasa yang digandrungi banyak orang. Di warung nasi Ma Eha, kita akan menemukan berbagai lauk, mulai dari tahu, tempe, perkedel, gepuk, babat, bala-bala, daging ayam, aneka pepes, daging sapi, buntil, ikan nila dll. Salah satu hal yang menyenangkan bagiku yaitu; setiap pembeli akan mendapatkan teh tawar hangat, sambal dadak dan lalapan secara cuma-cuma alis gratis. Meski di pasar Cihapit telah banyak kuliner kekinian yang bermunculan, namun warung nasi Ma Eha ini selalu ramai seolah tak tergerus zaman. Warung nasi ini memiliki tempat tersendiri di hati para pengunjung. Antrean kali ini lumayan panjang, tapi aku tetap sabar karena sangat tergiur dengan perkedelnya. Aku bahkan mempersilakan beberapa orang untuk menyalip antreanku, karena perkedelnya masih digoreng. Selain perkedel, deretan lauk yang tersaji, sungguh menggoda iman. Rasanya pengen nyobain semuanya, tapi aku harus menahan diri biar nggak kalap. Setelah penantian panjang, akhirnya pencarianku berlabuh pada beberapa lauk, yakni; nasi, pepes tahu, perkedel, telor balado dan bala-bala. Aku juga sempat meminta bumbu gepuk, sebab katanya gepuk ini adalah menu yang banyak diincar di sini. Daging gepuk ini dibalut dengan bumbu serundeng yang manis dan gurih, membuat aroma dan tampilannya semakin menggoda. Dan benar saja, bumbu gepuk yang aku cicipi rasanya manis dan memiliki cita rasa yang khas. Tak perlu waktu lama, akhirnya lalapan, sambal dadak dan teh anget disajikan. Aku pun sudah tak sabar untuk menyantap dengan lahap semua lauk yang sudah ku pesan. Pertama, aku langsung mencoba perkedel kentang yang menjadi incaranku. Benar saja, rasanya sangat memanjakan lidahku, gurih asin dan tekstur yang lembut — lidahku sampai bergoyang kegirangan. Perkedel ini ukurannya cukup jumbo jika dibandingkan dengan perkedel pada umumnya. Perkedel ini memiliki tekstur renyah di luar namun lembut di dalam. Kemudian, aku aduk nasi hangat dengan bumbu gepuk. Dan surprisingly, rasanya khas dan manis. Bumbu gepuk ini terbuat dari kelapa yang dimasak dengan berbagai rempah dan bumbu ini memiliki warna kecoklatan. Next, giliran pepes tahu yang aku santap dengan tenang. Funfactnya, aku jarang memesan pepes tahu, tapi entah kenapa kali ini rasanya pepes tahu tersebut bikin nyaman dan klik di lidahku. Pepes tahu ini dibalut dengan daun pisang, sehingga pepes ini memiliki aroma yang alami. Tekstur tahu yang lembut dan perpaduan rasa gurih pepes ini memberikan kenyamanan bagiku. Pepes ini menjadi salah satu comfort food bagiku. Aku juga mencicipi telor balado dan juga bala-bala (bakwan). Rasanya enak dan tekstur yang padat membuatku semakin kenyang. Tak lupa, aku ambil lalapan dengan sambal dadak, pokoknya rasanya pas kombo sederhana. Kali ini, aku sangat menikmati sajian lauk yang dihidangkan. Ditambah lagi dari pagi aku belum sempat sarapan, jadi semuanya terasa lebih nikmat dan memuaskan. Oh ya, warung ini buka dari jam 06.00–15.00 WIB. Tapi, kalo mau menikmati lauk yang masih komplit, aku saranin buat datang sekitar jam 09.00–10.00 pagi, karena di jam segitu lauknya masih lengkap dan beberapa menu masih fresh dari kompor. Buat kalian pembaca yang budiman, yang penasaran dengan cita rasa dari Warung Nasi Ma Eha, yuk boleh mampir ke sini ya! Mungkin segini dulu yapping kali ini, guys! Mohon maaf kalo fotonya kurang proper, karena dulu ngga kepikiran buat nulis ala-ala blog gini. hehe.. Untuk yapping: MAMPIR KE PASAR CIHAPIT nanti akan dilanjut di PART 2 ya kalo aku ga mager. Hehe.. Thank you guys!!
Dan Bandung, bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu — melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.

PASAR CIHAPIT

LOKASI WARUNG NASI MA EHA
MENU WARUNG NASI MA EHA


APA YANG AKU MAKAN DI WARUNG NASI MA EHA?




0 komentar